Minggu, 13 April 2014

Depopulasi Manusia

Ada banyak cara orang untuk mengurangi jumlah penduduk dunia, beberapa diantaranya adalah:

1.      CHEMTRAILS
Waspadalah, karena mungkin saja yang Anda sedang saksikan itu adalah chemtrails (chemical trails = jejak kimia) yang sedang disemprotkan ke bumi khusunya Indonesia. Zat itu termasuk dalam rangkaian proyek depopulasi manusia (pengurangan jumlah penduduk). Jerry D. Gray, seorang mantan angkatan udara Amerika menulis buku konspirasi New World Order, bersikeras menyatakan bahwa jejak-jejak itu adalah salah satu alat untuk melemahkan daya tahan tubuh manusia. Caranya dengan menyemprotkan berbagai bahan kimia di atas atmosfir. Apa yang diperingatkan oleh Jerry ternyata telah menjadi bahan perbincangan dan demonstrasi jutaan orang di dunia.
Bahaya chemtrails terdapat pada bahan beracun seperti, oksida aluminium, merkuri, radioaktif, barium, fiber, dan ditumpangi juga oleh virus/bakteri. Jerry pernah mengingatkan bahwa tanpa sepengetahuan banyak orang, pesawat-peasawat asing sering melintas di langit Indonesia dan menyemprotkan sejumlah bahan kimia berbahaya. Percaya atau tidak, ketika terjadi serangkaian chemtrails di langit Jakarta pada tahun 2009-2010, mendadak saja jumlah pasien dengan keluhan infeksi slauran pernapasan melonjak hingga 400%.
Ada dugaan bahwa pada tahun 2009 juga terjadi penyemprotan  chemtrails di langit Jakarta oleh pesawat-pesawat USAF. Pesawat itu kabarnya sedang “mempersiapkan” virus flu burung (H5N1). Sialnya, virus-virus itu terbawa oleh angin hingga ke Singapura, sehingga banyak warga di negeri singa itu terkena dampak flu burung.
Bahaya chemtrails secara sistematis bisa membunuh sirkulasi alam. Serangga yang terkena akan mati dan tidak bisa melakukan penyerbukan pada tumbuhan-tumbuhan. Ketika tumbuhan meranggas, maka manusia akan kelaparan. Kepanika terjadi, pembunuhan, perampokan, kelaparan. Di sinilah kesuksesan program depopulasi tercapai. Namun selalu yang akan ada yang diuntungkan, yaitu farmasi. Tentu saja, obat-obatan akan laku keras karena penyakit-penyakit buatan yang menjadi dampak dari chemtrails.
Tentu saja pemerintah Indonesia mengangggap chemtrails hanyalah sebuah konspirasi omomng kosong. Meskipun belakangan protes terhadap chemtrails muncul dari para mantan agen rahasia Ameriaka, FBI, dan pensiunan tentara. Apa yang diduga jejak kimia tak lebih dari  contrails (bekas jejak pembakaran pesawat belaka). Padahal jika diperhatikan ada perbedaan antara contrails dan chemtrails, yaitu pada lebarnya. Jejak  contrails lebih sempit dan cepat mengilang. Sedangkan chemtrails lebih lebar dan bertahan lebih lama di langit.

2.      CODEX ALIMENTARIUS
Memang isu adanya konspirasi depopulasi dunia yang hampir tak mampu lagi menyediakan makanan kepada miliaran mulut lapar sudah bukan hal baru. Mulai dari penyebaran wabah penyakit mematikan, degenerasi melalui vaksin, provokasi perang, merekayasa bencana alam hingga merekayasa makanan yang bisa mempengaruhi genetika manusia. Semua hampir terbukti sudah dilakukan oleh mereka yang menginginkan dunia tak ramai lagi. Sebuah dunia baru yang makmur yang diisi hanya oleh populasi pilihan. Dunia yang tanah dan lautnya masih mampu menyediakan makanan. Jika menurut kepada teori-teori konspirasi oleh gerbong zionis, maka angka ideal populasi hanya sekitar 500 juta jiwa. Itu artinya mereka akan merencanakan “pembunuhan” terhadap 93% populasi non pilihan.
Banyak yang terhenyak dengan pidato Dr. Rima Laibow dalam suatu forum internasional bernama National Association of Nutrition Professional di tahun 2005. Dalam satu kesempatan ia menyatakan, “Di tahun 1994, diam-diam tanpa sepengetahuan masyarakat luas dunia, Codex menyatakan bahwa gizi adalah racun, yang berarti berbahaya dan harus dihindari. Di bawah ketentuan Codex, semua sapi perah di muka bumi ini wajib diinjeksi dengan hormon pertumbuhan yang diproduksi oleh satu-satunya perusahaan, yaitu Mosanto. Dan lebih jauh lagi, semua hewan ternak yang digunakan sebagai bahan makanan di planet ini harus disusupkan bahan anti biotik khusus dan hormon pertumbuhan buatan. Menurut perhitungan WHO dan FAO, jika proyek mereka ini terus berjalantanpa hambatan berarti, WHO dan FAO memproyeksikan ketika diimplementasikan pada 31 Desember 2009, maka akan berdampak pada minimum kematian sekitar 3 miliar jiwa. Satu miliar lewat kematian secara langsung, mereka ini adalah orang-orang yang gagal di mata para korporasi dunia dan sisanya, 2 miliar jiwa akan menemui kematian akibat penyakit yang sesunggguhnya bisa dicegah, yakni kurang gizi.” Laibow mengatakan bahwa mereka yang menguasai makanan dan memberli gizi saja yang akan hidup. Survival of the fittest, kata teori Darwin dulu. Siapa yang mampu menyesuaikan diri yang akan selamat.
Proyek codex ini akan melakukan rekayasa dalam bahan pangan baik tumbuhan maupun hewan konsumsi dan mempropagandakan bahwa hal tersebut adalah aman dan menjadi pelindung kesehatan manusia. WTO (World Trade Organization) dilibatkan untuk memberikan sanksi pada negara-negara yang keras kepala yang tak mau mengikuti ‘anjuran sehat’ ini. Bagi negara-negara yang hidup pada era globalisasi maka sanksi WTO berarti kemunduran ekonomi. Tidak ada satu pun negara yang mau menjadi korban sanksi WTO.
Ada satu nama yang menarik muncul dari pernyataan Laibow, MONSANTO, sebuah perusahaan agrokimia Amerika Serikat. Nama ini menjadi menarik karena mereka juga terlibat masalah serius di Indonesia. Melalui perusahaan afilasinya, PT. Monagro Kimia, mereka terlibat dalam kasus penyuapan yang melibatkan sejumlah penjabat penting di Departemen Pertanian Indonesia sekitar tahun 2002. Mosanto merupakan salah satu perusahaan pembiakan bibit genetika di dunia. Intinya mereka merekayasa genetika tanaman menjadi (katanya) lebih baik produktivitas maupun kualitasnya. Lalu apa bahayanya? Bagaimanapun proses yang dilakukan secara rekayasa melawan alam, dan sangat kemungkinan terjadi kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi ekosistem maupun nyawa manusia. Seorang peneliti teknologi bio-indusry dari BPPT memperingatkan bahaya tanaman-tanaman transgenik hasil rekayasa seperti ini. Meskipun sepintas tanaman transgenik menguntungkan, namun dalam jangka panjang ada bahaya yang mengintai keselamatan ekosistem dan manusia. Misalnya jagung BT yang kromosomnya sudah direkayasa dan diganti dengan kromosom bakteri tanah (Bacillus Thuringiensis-BT) yang diproduksi di AS akan mengeluarkan sebentuk zat beracun yang menyebabkan hama ulat atau serangga akan mati ketika menggerayangi batang-batang jagung-BT. Petani tidak lagi membutuhkan racun pestisida untuk membasmi hama, karena ‘racun’ itu sudah ditanam di dalam sel-sel bibit jagung rekayasa tersebut sebelumnya. Tapi, bagaimana menjamin keamanan karbohidrat dan protein jagung dari interaksi racun buatan dalam kromosomnya? Kemungkinan terjadinya perubahan proses kimiawi yang menyebabkan evolusi perubahan struktur kimia pada tanaman transgenik sangat besar. Bisa saja terjadi asimilasi gizi dengan racun yang tidak diketahui tingkat bahayanya apabila dikonsumsi oleh manusia. Ketika ini terjadi maka bahan-bahan pangan transgenik bisa menjelma menjadi monster pencabut nyawa atau menyebabkan kecacatan genetik turunan.



Sekarang tinggal kita menentukan, pakah kita kan duduk santai menerima nasib sebagai orang yang terpilih atau tida? Solusinya kita harus bersikat kritis terhadap terjangan globalisasi. Kita harus pandai memilah-memilah, mulai dari bahan pangan hingga sandang. Pemerintah juga memegang andil yang cukup besar. Pemerintah harus lebih tegas lagi terhadap pesawat-pesawat asing yang masuk ke Indonesia. Persahabat dan hubungan baik boleh, tapi kesenangan dan keamanan rakyat harus lebih diutamakan. Selain masalah pesawat, pemerintah juga harunya meningkatka kualitas kantor-kantor kesehatan pemerintah. Kantor-kantor tersebut diharapkan dapat menyediakan kesehatan bagi rakyat. Kantor tersebut bekerja sebelum dan sesudah. Maksudnya sebelum adalah memeriksa bahan pangan yang mungkin saja berbahaya bagi masyarakat. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Setelah maksudnya bekerja lebih konsisten dan profesional dalam menangani kasus kesehatan di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar